top of page

Saat Anak "Bertingkah", Jangan Tanya Kenapa

Siapa yang tidak kesal saat melihat si kecil mewarnai ruangan dengan bedak atau lipsik kesayangan moms? Saat melihat si kecil sedang menumpahkan air berwarnanya di atas karpet ruang tengah keluarga? atau saat tiba-tiba anak menolak dengan keras les renang yang menjadi hobinya?


Kira-kira respon apa nih yang pertama keluar dari moms? Tentunya penasaran yaa, sering kali bertanya dengan nada tinggi atau bahkan mengeluh dalam hati mengenai "Kenapa sih dee kan jadi nya berantakan?" "Bagaimana mungkin anak ini berbuat demikian!"


Sangat normal, rasa penasaran itu muncul ditambah rasa kesal dan gemas terhadap tingkah si kecil. Tapi moms, dari pada menyalahkan dan mengkritik apa yang sudah terjadi, ada satu tahap efektif yang membantu si kecil untuk belajar, yaitu mencari tau alasan dibaliknya. Ubahlah diri moms menjadi seorang detektif handal dan mulai mencari akar penyebab suatu perilaku, "Kira-kira apa ya yang ingin anak coba?" "Apa dia penasaran tentang perubahan warna air di karpet?" "Apa yang membuatnya bertingkah buruk? apa ada pengalaman tidak menyenangkan?"


Mulai lah mengumpulkan data, untuk menemukan alasan-alasan yang sebenarnya perlu kita perhatikan dan bicarakan pada si kecil. Dengan bertanya-tanya apa yang si kecil coba capai dan dengan memperbolehkan mereka untuk menjelaskan situasinya, sebelum kita langsung menghakimi, kita dapat mengumpulkan data yang sebenarnya dari dunia internal mereka.

Itulah saat terbaik si kecil untuk belajar.


Langkah ini akan lebih optimal saat kita membangun hubungan lebih dulu, baru mulai mencari tau alasannya. Ikuti yuk tips untuk menghadapi kondisi-kondisi ini:


1. Tenangkan diri moms dan siap untuk membangun hubungan dengan si kecil Saat merasa kesal dan sesak didada, rasanya ingin langsung mendekati si kecil ya moms, tapi sebelum itu tenangkan diri moms agar dapat memanfaatkan kejadian dengan baik. Bisa dilakukan dengan mengambil nafas yang panjang atau menjauh beberapa saat


2. Bangun hubungan dengan si kecil, melalui kalimat-kalimat acknowledge dan sentuhan fisik yang nyaman Berempati pada si kecil dengan kalimat-kalimat acknowledge dan sentukan fisik yang nyaman, seperti, "adek kaget ya karpetnya basah" "sepertinya ada yang penasaran yaa" "iya adek sedang tidak ingin ikut les renang ya" katakan sambil mengelus-elus bagian kepala/punggung atau peluk nyaman si kecil


3. Mulai mendengarkan apa yang anak ingin bicarakan Saat anak merasa nyaman, anak akan mulai bercerita mengenai apa yang terjadi, namun g aperlu di paksa ya moms, biarkan anak melakukannya dengan senyaman mungkin, jika belum mau bercerita tetap berikan kenyamanan dan keamanan yang dibutuhkan


4. Mengumpulkan data mengenai apa yg ingin dicapai dan alasan kenapa hal itu terjadi Hal ini bisa dilakukan melalui mendengarkan si kecil bercerita dan mengira-ngira apa yang ingin dicapai, bisa melalui kebiasaannya, tontonannya, atau lingkungan sekitar


5. Membuat hipotesis dan mengkonfirmasi pada anak "Sepertinya adek ingin melukis diatas kertas untuk bermain warna, begitu ya de?" "Oh adek penasaran ya rasanya memegang karpet basah?" "Saat les renang kemarin, kamu merasa tidak nyaman dengan tatapan temanmu si X ya?


6. Membuat kesepakatan mengenai apa yang perlu dilakukan kedepannya

“Jika adek ingin tau apa yg terjadi saat karpet basah, yuk kita coba bersama-sama di karpet yang sudah ditentukan ya, coba kita lihat apa yang terjadi :)” ”Menurutmu apa yg membuat X menatapmu dengan tatapan seperti itu?, apa yang bisa kamu lakukan?”

22 views0 comments

Comments


bottom of page